mau BUPATI yang model gimana?

( kecheng )

sebuah wacana bagi orang-orang yang mau jadi BUPATI, sebuah tumpahan perasaan dari kekesalan yang mengharu biru.

old-lamp-wallpaper.jpgsebetulnya yang diinginkan dari masyarakat kecil bukanlah BUPATI yang banyak mendapatkan penghargaan dari PRESIDEN, PBB apalagi cuman GUBERNUR. mengapa? karena PRESIDEN, PBB apalagi cuman GUBERNUR hanyalah manusia yang penilaiannya bisa jadi berdasarkan like andislike, suka dan nggak suka. wah..bupati ini bisa memuluskan jalanku untuk pemilu besok, biar dia loyal padaku biarlah tak kasih penghargaan biar nanti aku juga kepilih lagi jadi presiden. INI NAMANYA OMONG KOSONG!!!!

itulah maka yang diinginkan masyarakat bukan bupati yang memiliki sederet gelar, setumpuk penghargaan, didukung sejuta kiai, pernah menempati seribu post jabatan. bukan!!! MAAF, KAMI HANYA INGIN BUPATI BANYAK MENDAPATKAN HIDAYAH DAN PENGHARGAAN DARI ALLAH. sehingga dia bisa menjalankan roda pemerintahan dan memikul jabatannya dengan penuh amanah sesuai tuntunan syariat. kami hanya ingin BUPATI yang penuh dengan jiwa pengabdian dan amanah. sehingga dana pembangunan benar-benar untuk pembangunan, bukan untuk menyambut tamu-tamu yang mengunjungi kabupatennya. biar dia gak dapat penghargaan dari presiden masa bodo, gak pernah dapat acungan jempol dari gubernur masa bodo. yang penting ALLAH ridho dengan segala apa yang telah dilakukannya. yang penting rakyat sejahtera dengan rezeki yang halal, biar banyak pedagang kaki lima gak apa-apa, asal yang dijual adalah dagangan yang halal. daripada kota yang indah gak ada pedagang kaki lima tapi ISINYA KORUPTOR SEMUA!!!

diriwayatkan dalam Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, dia berkata: Datang seorang Arab Badui (kampung) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika amanat telah diabaikan maka tunggulah hari kiamat.” Kemudian dikatakan kepada beliau: “Bagaimana mengabaikan amanat itu?” Beliau bersabda: “Jika urusan telah diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.”

Makna memberikan urusan kepada orang yang bukan ahlinya adalah: “Memberikan suatu amanat atau tanggung jawab kepada orang yang tidak mampu memikulnya seperti memberikan hak kepemimpinan kepada orang yang tidak memiliki keadilan, keberanian, dan keshalihan. Jika terjadi yang demikian, maka tunggulah saat kehancuran.”

Komentar ditutup.