Sekilas Ngori

Seputar Ngori

(Compiled by G-Phenx)

map

A. Geografi

1. Wilayah dan Batas-batas.

Merupakan daratan yang terletak tepat ditengah-tengah wilayah Kecamatan , yang mana daratan tersebut terdiri dari 4 (empat) RT, dan 2 (dua) RW. Ngori juga terbagi menjadi dua daerah yaitu

1. Wilayah Ngrojo

2. Wilayah Mberan.

Wilayahnya berbatasan langsung dengan Ibu Kota Kecamatan di sebelah selatan, sebelah utara Sekaran dengan ditandai Kali “Kang Kemi”. Disebelah barat berbatasan langsung dengan Tapelan yang ditandai dengan adanya “BLOKAN”, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan dengan wilayah Sekaran “Etan” dan wilayah Karangturi.

2. Keadaan Alam

Keadaan alam Ngori sebagian besar adalah berupa daratan. Adapun sungai hanya dapat ditemui sekitar perbatasan. Wilayah Ngori khususnya daerah Ngrojo mempunyai ketinggian yang lebih dibandingkan Wilayah Ngori daerah Mberan sehingga hal ini menyebabkan daerah Ngrojo banyak digunakan untuk perumahan penduduk sedangkan daerah pertanian terdapat di Mberan.

3. Iklim

Pada garis besarnya di Wilayah Ngori terdapat dua musim, yakni Musim Angin Timur atau Musim Kemarau ( Mei – Oktober ) dan Musim Angin Barat atau Musim Hujan ( Nopember – April ).

B. Flora dan Fauna

1. Alam Ngori kaya akan tumbuh-tumbuhan sampai saat ini ada sekitar 2.000 jenis tumbuh-tumbuhan yang ditemukan di Ngori. Jenis tumbuh-tumbuhan yang paling banyak di temui yaitu jenis rumput-rumputan.

2. Di Ngori banyak terdapat hewan piaraan seperti sapi, kambing, kucing serta berbagai macam unggas, antara lain : ayam, itik, angsa, menthog, dan berbagai macam burung. Selain binatang piaraan juga memiliki binatang-binatang liar terutama burung, yaitu : cendet, trucukan, sikatan, emprit, jalak, derkuku, dan lain-lain.

C. Sejarah Ngori dari berbagai sumber dan versi

1. Bercerita tentang Ngori pasti tidak akan lepas dari Danyang Ngori yakni Mbah Bendhul, ini dikarenakan Mbah Bendhul sudah dianggap sebagai pengayom semua warga dan wilayah Ngori pada khususnya. Pada zaman dahulu kala di wilayah Ngori dan sekitarnya mengalami musibah berupa kekeringan yang maha dahsyat. Para warga berusaha mencari sumber air dengan berbagai cara namun tidak mampu menemukan sumber air. Kemudian salah seorang warganya yang bernama “Mbah Bendhul” yaitu seorang yang pekerjaannya sebagai pedagang hewan ternak membuat “Belik”. Dan ternyata dari belik tersebut keluar air yang mampu memenuhi kebutuhan warga Ngori bahkan sampai di luar Ngori. Belik tersebut kemudian dikenal dengan “Sendang Penguripan”. Oleh warga disekitar belik tersebut ditanami pohon Beringin. Setelah meninggalnya Mbah Bendhul kemudian setiap sekali dalam setahun tepatnya hari Jum’at Pahing di belik tersebut selalu diadakan selamatan yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih, serta dilanjutkan dengan “Tayuban”. Karena zaman yang semakin ramai kemudian arwah Mbah Bendhul beserta semua anaknya ( Mbah Ranggit, Mbah Rawit, Mbah Kenongo, dan Mbah Kanthil ) pindah ke Gunung Lawu. Tetapi menurut keyakinan sebagian besar pribumi Ngori bahwa Mbah Bendhul akan datang apabila dipanggil. Hal ini memang benar-benar terjadi. Satu lagi yang merupakan pantangan bagi warga Ngori yaitu apabila ada hal Ghoib ( biasanya berupa binatang ) yang berwarna Putih tidak diperbolehkan untuk dianiaya, karena merupakan jelmaan dari Mbah Bendhul. Sampai saat ini belik tersebut masih ada tepatnya berada di belakang Balai Desa Tanggungan. ( Sumber : Mbah Wajiran, Mbah Mino, Mbah Ramin, Dhe Woto )

2. Sejarah tentang nama Ngori masih merupakan satu rentetan dengan daerah yang ada di sekitar Ngori, serta merupakan misteri yang sulit untuk dilacak. Asal mula Ngori berawal dari kisah “Mbok Rondho Dadapan” yang melakukan pelarian karena di kejar-kejar oleh Raksasa. Setelah sampai pada suatu daerah Mbok Rondho tersebut tertinggal dari rombongan (dalam bahasa Jawa : thèngor-thèngor terus kéri). Dari kata tersebut maka di jadikan nama dari suatu daerah yaitu “NGORI”.

Sedangkan orang pertama yang tinggal di Ngori berasal dari daerah Tapelan yang bernama Kromo Diredjo. Tempat tinggal beliau di daerah Ngori bagian timur berbatasan dengan Sekaran. Sehingga sampai sekarang daerah itu disebut “NGROJO” yang berasal dari kata “KERAJAAN”. Sedangkan daerah “MBERAN” itu digunakan untuk menandai bahwa dahulu daerah tersebut merupakan tanah yang tidak berpenghuni (dalam bahasa Jawa : “BERO”). Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Mbah Bendhul merupakan menantu dari Mbah Kromo Diredjo yang juga berasal dari Tapelan.( Sumber : Mbah Wajiran, Mbah Mino, Lik Suhari, Dhe Woto )

3. Sekelumit tentang BLOKAN. Blokan menurut sumber yang dapat dipercaya berasal dari tahun penjajahan Belanda. Alkisah diceritakan ada seorang gadis yang cantik jelita, gadis tersebut ditaksir seorang Belanda. Gadis tersebut mau dijadikan istri dengan syarat orang Belanda tersebut mampu membuat NGGAWAN KEMBAR. Hal tersebut juga disanggupi oleh sinyo Belanda, dengan mengerahkan penduduk pekerjaan pun dimulai, tetapi belum sampai pekerjaan tersebut selesai sinyo Belanda tersebut meninggal dunia sehingga sampai dengan sekarang pekerjaan tersebut juga tidak terselesaikan. Adapun kata Blokan berasal dari penggarapannya yang blok-blokan ( kelompok-kelompok ) sehingga disebut BLOKAN.

D. Sosial Budaya.

1. Penduduk.

Penduduk Ngori merupakan campuran dari bermacam suku dan etnis sehingga adat, kebiasaan, serta bahasanya bermacam corak dan bentuknya. Tetapi ada pula masyarakat pendatang yang mencoba untuk membaur dan menggunakan tradisi yang ada di Ngori.

Seperti dikemukakan diatas bahwa Wilayah Ngori yang tidak begitu luas sehingga jumlah penduduknyapun tidak terlalu banyak sekitar 200 KK (kepala keluarga) atau kurang lebih 850 jiwa.

2. Kebudayaan.

Perkembangan kebudayaannya sudah ada sejak dulu ( tidak bisa dilacak ). Kebudayaan asli sama seperti kebudayaan bangsa Indonesia umumnya yaitu Gotong-royong, musyawarah mufakat, serta toleransi. Masyarakat Ngori khususnya yang merupakan “ Pribumi Ngori “ masih melestarikan budaya warisan leluhurnya yakni MANGANAN yang selalu dilaksanakan tiap tahun sekali pada hari Jum’at Pahing, bahkan kadang-kadang mereka lebih mengutamakan manganan dari pada merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Manganan selalu diikuti dengan kesenian “SINDIR” atau tayub, konon kabarnya ada kejadian yang mengerikan ( kesurupan, keluarnya ular, dll ) jika tidak ada pertunjukan tayub. Dengan menilik bahwa penduduk Ngori berasal dari Tapelan maka ada juga masyarakat Ngori yang masih menganut budaya dari Tapelan yaitu “SAMIN”.

3. Bahasa.

Seperti halnya daerah lain di Ngori pun memiliki dialek tersendiri yang berbeda dengan dialek daerah lain. Dialek yang paling membedakan dengan daerah yang lain adalah dalam istilah “mu” kalau dalam dialek Ngori berganti dengan “em” ( contoh: Pak mu –> Pak em ). Tetapi sebagai bangsa Indonesia masyarakat Ngori juga menggunakan bahasa Indonesia untuk bahasa Nasional.

Bila ada tambahan cerita hubungi admin.ngori@gmail.com

© ge-en kereaktipe

Ini adalah cerita kejayaanku di masa lalu……………… !!!!!!!!

Percoyo entuk, ora gak po-po………….

Komentar ditutup.